Wednesday, 7 October 2015

150 HA LAHAN SAWAH GAGAL PANEN DI POSO

taganapelalawan.com - Tahun ini menjadi tahun yang berat bagi para petani sawah. Umumnya, para petani mengalami kerugian karena hasil panen yang tidak seperti yang diharapkan, hingga ada yang gagal panen.
Setidaknya itulah yang terlihat di wilayah Kecamatan Pamona Puselemba, Poso, Sulawesi Tengah, khususnya di Desa Buyumpondoli, Desa Mayakeli dan Desa Soe. Sebanyak 150 hektar areal sawah di tiga desa itu mengalami kekeringan yang menyebabkan lahan persawahan padi yang sudah siap panen juga ikut mengalami kekeringan.
Kepala Desa Soe, Frans Ferdinan (56) menuturkan, meskipun sedang masa panen tetapi hasilnya turun hingga 50 persen. Sebab, banyak tanaman padi yang tidak berisi dikarenakan kekeringan yang telah terjadi sejak April. Selain faktor kekeringan, para petani juga sebagian merugi akibat melakukan panen lebih awal, mengingat kondisi butir padi yang semakin lama semakin mengering atau hangus.
“Biasanya dalam satu hektar itu bisa dapat 80 karung gabah atau sekitar 10 ton. Tapi sekarang kami hanya bisa dapat 5-6 ton saja dalam satu hektar sawah” kata Frans Ferdinan, saat ditemui Minggu (4/10/2015).
Hal senada juga dikemukakan petani bernama Antonius (25). Warga Desa Buyumpodoli yang berbatasan dengan Desa Soe itu mengaku akibat musim kemarau tersebut, seluruh hasil panen menurun atau gagal panen. Menurut dia, hampir semua petani yang selama ini bermata pencaharian sebagai petani terpaksa harus beralih perofesi menjadi pekerja bangunan untuk menghidupi keluarganya.
“Dulu bisa dapat seratus karung gabah. Tapi kini mungkin hanya 50 karunglah yang bisa dipanen, karena tanaman padi kurang mendapatkan pasokan air” ucap Antonius, seraya memperlihatkan bulir bulir tanaman padi yang tidak berisi.
Fenomena kekeringan yang melanda areal persawahan pun memaksa para petani untuk menunda masa tanam kedua yang seharusnya sudah dapat dilakukan di bulan Oktober tahun ini. “Dengan situasi ini tidak ada pilihan lain bagi kami para petani yang harus menunda penanaman padi, hingga musim hujan tiba,” tutur Antonius.
Para petani berharap agar Pemerintah Kabupaten Poso dapat membangun saluran irigasi yang memadai, yang bisa tetap berfungsi meskipun sedang terjadi musim kemarau yang panjang seperti tahun ini. Kondisi saluran irigasi yang berada di areal persawahan di tiga desa itu terlihat ada yang tetap dialiri air. Namun, karena permukaan airnya lebih rendah dari permukaan sawah maka aliran air irigasi tidak dapat digunakan untuk membasahi sebagian persawahan yang selama ini juga masih bergantung pada air hujan.